Jumat, 24 Agustus 2012

Tanah Surga...Katanya



Tanah Surga...Katanya
---------------------------------

Sudah menjadi pemandangan umum bila banyak warga negara Indonesia merantau dan bekerja di Malaysia, sebuah negara yang diklaim sebagai serumpun dan sebahasa. Sesuai dengan pepatah mengatakan rumput halaman tetangga lebih hijau dari rumput halaman sendiri maka banyak orang-orang Indonesia yang bekerja atau bahkan pindah dan menjadi warga negara di sana. Sebuah fenomena yang sering terdengar namun tiada pernah teratasi. Untuk itulah film ini sedikit menguak sisi kehidupan lain sebuah keluarga di sebuah desa kecil pada perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.

Film yang bergenre drama satire ini diproduseri oleh Deddy Mizwar dan Brajamusti yang akrab dipanggil Aa Gatot. Istilah satire mempunyai arti sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Mereka berdua juga tampil sebagai cameo yaitu menjadi seorang pejabat dan asistennya yang sedang berkunjung didesa. Herwin Novianto menyutradarai ini sebagai aksi keduanya setelah Jagad x code.

Cerita dimulai dengan kedatangan Haris (Ence Bagus) dari Serawak Malaysia, seorang duda yang mempunyai dua orang anak yaitu Salman (Osa Aji santoso) dan Salina (Tissa Biani Azzahra). Selama ini Haris bekerja di Serawak dan sesekali baru pulang ke kampung halamannya. Kedua anaknya dititipkan kepada ayahnya yang bernama Hasyim (Fuad Idris) yang sudah sakit-sakitan. Dia adalah mantan pejuang operasi dwikora yaitu perang melawan Malaysia.

Haris mengajak ayahnya untuk pindah ke Malaysia karena kondisinya lebih baik dengan adanya fasilitas kesehatan, mudah cari kerja dan lain-lain. Namun Haris menolaknya dengan alasan Indonesia adalah tanah surga dan lebih makmur serta alasan sejarah juga patriotisme bangsa. Haris hanya berhasil mengajak Salina saja sedangkan Salman tetap tinggal dengan sang kakek.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi disama lebih buruk dari Malaysia. Di sana tidak ada listrik dan penerangan masih memakai obor tetapi di Serawak sudah ada listrik dan lampu. Di sana jalanan masih bebatuan tetapi di Serawak jalanan sudah beraspal. Disana tidak ada toko yang berdagang tetapi di Serawak banyak toko yang menyediakan segala keperluan. Bahkan mata uang disana memakai ringgit mengikuti mata uang Malaysia.

Fasilitas pendidikan juga sangat minim dengan hanya ada satu guru saja yang bernama Astuti (Astri Nurdin) yang mengajar rangkap kelas tiga dan kelas empat. Bahkan sempat vakum selama satu tahun karena tidak ada gurunya. Fasilitas kesehatan juga sempat kosong dan untunglah datang dokter Anwar (Ringgo Agus Rahman) yang dipanggil dengan sebutan dokter Intel. Dokter Anwar sempat naksir pada Astuti sampai-sampai memberikan hadiah shampo, maklumlah shampo saja sulit di dapat di desa tersebut. Keduanya menunjukkan pengorbanan dan cintanya akan penduduk desa.

Astri Nurdin dapat berperan dengan baik sesuai porsinya sebagai seorang guru yang menunjukkan wibawanya dan bijaknya. Raut wajah dan bicaranya cocok sebagai orang Melayu. Agus Ringgo bermain biasa-biasa saja seperti peran-peran yang dilakoni sebelumnya. Mungkin orang sudah sering melihat karakter yang agak lucu dan karakter tersebut melekat juga dalam film ini. Fuad Idris juga bagus dalam memerankan sosok tua yang mencintai negeri yang bernama Indonesia. Gurat-gurat wajah yang menahan emosi serta pertentangan batinnya dapat terlihat dengan baik. Osa Aji Santoso terlihat potensinya namun masih harus banyak jam terbangnya untuk menjadi aktor cilik berbakat.

Kekurangan dalam film ini yaitu tidak tampak murid-murid kelas satu, kelas dua, kelas lima dan kelas enam apa dan bagaimana mereka. Sayangnya sang sutradara kurang mengeksplorasi keindahan alam dan nuansa desa yang seharusnya dapat lebih maksimal. Menurut penulis sudut pengambilan gambar kurang kreatif sehingga beberapa adegan terutama di malam hari terlihat gelap. Juga alur cerita yang tidak berujung sehingga tidak ada greget akhir yang ingin dicapai.

Kelebihan dalam film ini adalah tema yang diangkat patut diacungi jempol dari pada tema horsex alias horor sexy yang ada selama ini. Jarang sekali film yang mengangkat rasa nasionalisme bangsa dengan cara unik tanpa perang dan darah seperti ini. Termasuk posisi Indonesia digambarkan ”kalah” dalam film ini sebagai bentuk sindirin terhadap pemerintah pusat, pejabat daerah dan kita semua. Suatu bentuk kejujuran atas realita yang ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar